Pada 20 Juli tahun 1969, melalui misi
penerbangan Apollo 11 yang dilakukan oleh National Aeronautics and Space
Administration, negara Amerika Serikat berhasil menghantarkan dua
astronotnya, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, menjadi dua manusia
pertama yang berhasil menjejakkan kaki mereka di Bulan. Jelas adalah sebuah
peristiwa yang sangat bersejarah bagi seluruh umat manusia yang ada di
dunia. Namun, pernahkah Anda merasa penasaran mengenai mengapa hingga
saat ini tidak ada lagi seorangpun yang mampu mengikuti jejak Armstrong
dan Aldrin untuk menginjakkan kaki mereka di Bulan? Akan ada banyak
teori konspirasi mengenai hal tersebut dan Apollo 18 mencoba untuk menceritakan salah satu diantaranya.
Merupakan debut film berbahasa Inggris pertama bagi sutradara asal Spanyol, Gonzalo López-Gallego, Apollo 18 adalah sebuah film horor yang bernafaskan science fiction namun dihantarkan melalui gaya penceritaan found footage. Perpaduan antara tema penceritaan science fiction dengan nuansa horor yang datang dari
gaya penceritaan found footage
jelas akan menjadi sebuah presentasi yang menarik jika López-Gallego
mampu mengeksekusi jalan cerita filmnya dengan baik. Sayangnya, naskah
cerita arahan Brian Miller sepertinya terlalu lemah untuk mampu
memberikan dukungan yang kuat bagi pengarahan López-Gallego. Hasilnya, Apollo 18
semenjak awal telah terlihat sebagai sebuah penceritaan yang kacau dan
sama sekali tidak pernah mampu memberikan efek horor yang kuat bagi
penontonnya.
Layaknya kebanyakan film-film dengan gaya penceritaan found footage lainnya, Apollo 18 dibuka dengan sebuah kalimat perkenalan yang menyatakan bahwa film yang akan disaksikan merupakan hasil editing
dari sebuah rekaman video mengenai misi rahasia pemerintah Amerika
Serikat yang bocor di internet. Berlatar belakang masa penceritaan pada
Desember 1974, Apollo 18 berkisah mengenai tiga orang astronot
Amerika Serikat, Captain Benjamin Anderson (Warren Christie), Commander
Nathan Walker (Lloyd Owen) dan Liutenant Colonel John Grey (Ryan
Robbins), yang akan dikirimkan ke Bulan untuk sebuah misi rahasia
melalui penerbangan Apollo 18.
Sebenarnya, Ben, Nate dan John sendiri
memang semenjak lama telah dijadwalkan untuk terbang ke Bulan melalui
misi Apollo 18. Namun, misi tersebut kemudian mendapatkan pembatalan
secara sepihak dari pihak pemerintah. Misi yang kini harus dilalui oleh
Ben, Nate dan John sendiri tetap disebut sebagai misi Apollo 18.
Perbedaannya, kini ketiganya diharuskan merahasiakan perjalanan tersebut
dari orang-orang yang berada di luar pihak NASA dan pemerintahan. Tidak
begitu mempedulikan hal tersebut, ketiganya tetap merasa bahagia dengan
penerbangan mereka ke Bulan. Sayangnya… begitu ketiganya mencapai
tujuan mereka, mereka harus menghadapi sebuah teror yang dapat saja
menyebabkan hilangnya nyawa mereka.
Meskipun adalah sangat menarik untuk menyaksikan bagaimana Gonzalo López-Gallego mengeksekusi premis Apollo 18
yang jelas sangat terdengar menarik, sayangnya film ini gagal untuk
didukung oleh naskah penceritaan yang mumpuni. Semenjak awal film, Apollo 18
terlihat benar-benar tidak memiliki arah penceritaan yang istimewa.
Latar belakang lokasi cerita yang berada di kawasan permukaan Bulan
seperti hanyalah sebuah lokasi alternatif dari demikian banyak lokasi
cerita yang biasanya mengisi kisah-kisah horor yang menggunakan teknik
penceritaan found footage dalam presentasinya. Deretan konflik
yang disajikan juga sangat terasa familiar. Sama sekali gagal untuk
menyajikan sebuah konflik baru yang benar-benar menarik.
Selain naskah cerita yang hanya mampu menyajikan deretan konflik yang terkesan usang dan jauh dari kesan menarik, Apollo 18
semakin jauh dari kesan menarik dengan hadirnya deretan karakter yang
benar-benar tersaji dengan dangkal. Ketiga karakter utama tidak pernah
diberikan kesempatan untuk hadir dengan sisi penceritaan yang lebih
mendalam. Akibat dari deretan kelemahan tersebut, di sepanjang 86 menit
durasi penceritaan Apollo 18, film ini tampil tanpa pernah sekalipun berhasil untuk menakuti para penontonnya.
Apollo 18, sayangnya, adalah
sebuah contoh lain dari sebuah jalan penceritaan yang hanya mampu
terlihat menarik dari premis cerita yang ditawarkan daripada hasil akhir
eksekusi penceritaan film ini. Kegagalan tersebut jelas muncul dari
lemahnya penulisan naskah penceritaan film ini yang hanya mampu tampil
sebagai sebuah horor found footage dengan latar belakang lokasi
yang berbeda namun tetap menyajikan konflik dan usaha menakut-nakuti
penontonnya dengan teknik yang telah berulang kali digunakan oleh
film-film sejenis. Datar dan sangat, cukup membosankan.
JIKA ANDA TELAH SELESAI MEMBACA ARTIKEL INI, DIMOHON KLIK IKLAN DIBAWAH INI, UNTUK MEMBANTU PEMBIAYAAN BLOG. TERIMA KASIH.
JIKA ANDA TELAH SELESAI MEMBACA ARTIKEL INI, DIMOHON KLIK IKLAN DIBAWAH INI, UNTUK MEMBANTU PEMBIAYAAN BLOG. TERIMA KASIH.
